Showing posts with label Wisata dan Budaya Kota Bima. Show all posts
Showing posts with label Wisata dan Budaya Kota Bima. Show all posts

Monday, March 14, 2011

Museum SAMPARAJA Bima

Bima disamping memiliki Museum ASI Mbojo, juga memiliki satu lagi museum yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan naskah-naskah kuno peninggalan jaman kerajaan Bima. Museum ini adalah Museum SAMPARAJA yang terletak di Jalan Gajah Mada Kelurahan Monggonao Kota Bima. Bangunannya bukan peninggalan masa kerajaan dan di kelola oleh Yayasan Museum Samparaja Bima.
        Bangunan ini memiliki tiga ruangan. Untuk tari-tarian, pameran dan tempat menyimpan koleksi pribadi dan etnis-etnis Bima, seperti Kitab BO yang asli. Kitab ini membahas ihwal kerajaan Bima pada abad 14 Masehi. Kitab BO ini telah diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul BO Sangajikai yang merupakan catatan kerajaan Bima.
        Dimuseum ini juga terdapat benda-benda peninggalan jaman Kesultanan Bima. Disebelah timur ada ruangan yang menyimpan baju adat Tari Toja. Tarian ini diperankan oleh empat orang perempuan. Ada juga baju adat Tari Kanja dan baju kebesaran kerajaan Bima. Pakaian ini digunakan saat upacara adat Hanta U'A PUA. Tersimpan juga di museum ini pakaian Galarang dan cara adat Camat jaman kerajaan dan kesultanan.
        Bangunan bagian Barat ada ruangan yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan alat dapur dari perunggu, peralatan songket, kebaya emas yang dibuat pada abad 16 dan meja sisa peninggalan Kesultanan Bima. Disamping itu juga ada foto Sultan Ibrahim, foto Sri Sultan Ibrahim dan foto Sultan Muda Muhammad Salahuddin yang masih tersimpan dengan baik. Koleksi-koleksi ini seolah-olah mengajak kita untuk mengingat bagaimana masa kerajaan dan kesultanan dulu.

Saturday, March 12, 2011

Profil Museum ASI MBOJO

Museum ASI Mbojo merupakan bekas Istana Kerajaan Bima dan juga merupakan bekas Kesultanan Bima yang dirubah statusnya dari kerajaan menjadi kesultanan pada tahun 1620. Yang pada tanggal 11 Agustus 1989 pada jaman Pemerintahan Daerah DATI II Bima dibawah pimpinan Bapak Bupati H. Oemar Harun, BSc. Istana Kesultanan Bima dialihkan fungsinya menjadi Museum Daerah Bima.
Museum ASI Mbojo yang berlokasi di Kelurahan Paruga Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima Propinsi NTB dengan luas lahan keliling 30.728 m2 dan luas bangunan 824 m2 yang corak, gaya serta bentuk bangunannya merupakan perpaduan arsitektur Eropa dan Tradisional Bima yang dibangun pada tahun 1927 oleh arsitek berdarah Maluku – Belanda yang bernama Raehata.
Pada awalnya Museum ASI Mbojo adalah Museum swasta yang dikelola oleh sebuah yayasan yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dengan bantuan Depdikbud Kabupaten, Propinsi dan Pusat. Melihat perubahan dan fungsi serta peranan daripada Museum ASI Mbojo yang sangat penting sebagai pusat informasi dan edukatif budaya bagi masyarakat luas, maka pada tanggal 11 Agustus 1989 dirubah statusnya menjadi Museum Daerah Kabupaten Bima. Seiring perubahan status Pemerintah Daerah pada tatanan Nasional termasuk dengan diberlakukanya Otonomi Daerah maka fungsi serta pengelolaan Museum ASI Mbojo berubah lagi statusnya menjadi Unit Pelaksana Tekhnis Daerah (UPTD) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima berdasarkan Peraturan Bupati Bima Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Pembentukan, Susunan, Kedudukan, Tugas pokok, Fungsi dan Tata kerja untuk pelaksana tehnis Dinas dan Badan lingkup Pemerintah Kabupaten Bima, yang juga diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah.
Melihat perubahan status serta fungsi dari pada Museum ASI Mbojo maka pada tanggal 10 Maret 2008 dibuatlah struktur organisasi Museum ASI Mbojo yang mampu mengelola serta melakukan fungsi secara maksimal dengan didukung oleh 23 (Dua Puluh Tiga) personil yang diatur dalam susunan struktur organisasi sebagai berikut terlampir :
1. Kepala UPT
2. Kepala Tata Usaha
3. Staf Kepegawaian dan Keuangan
4. Staf Pelayanan dan Informasi
5. Staf Pelestarian dan Keamanan
Museum ASI Mbojo merupakan salah satu objek wisata andalan yang berada di Kota / Kabupaten Bima dengan berbagai macam koleksi yang dipamerkan pada beberapa ruang pamer yang secara garis besar terdiri dari ruang pamer benda pusaka (ruang mas), ruang pamer alat perang, ruang pamer numismatic (alat tukar / mata uang), filtrin kehidupan masa lampau, filtrin peralatan kesenian tradisioanal, filtrin busana adat dan upacaara tradisional dan filtrin alat pertanian dan peternakan tradisioanal.

DAFTAR KOLEKSI UNGGULAN MUSEUM ASI MBOJO

1. Mahkota Kerajaan Bima (Songko Raja)
Dibuat pada tahun Tahun 1799 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Mahkota ini terbuat dari Emas Murni dengan tatanan intan dan Berlian, Mahkota ini dipakai oleh Sultan pada saat upacara-upacara kebesaran istana.


2. Keris SAMPARAJA (Sampari Raja)
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Keris ini merupakan Keris Jabatan Raja dan Sultan yang menjabat.
Keris ini dibuat dari Emas murni yang dihiasi dengan batu permata.
Gagang Keris SAMPARAJA yang dikelilingi berlian








3. Keris TATARAPA (Keris Putra Mahkota)
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi. Keris ini terbuat dari Emas murni yang hanya dipakai oleh Putra Mahkota sebagai calon pengganti Sultan. Pembuatan keris ini dilakukan dengan cara tradisional begitupun dengan ukiran dan sentuhan warna yang berbeda.

4. Golok La Nggunti Rante
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Senjata ini terbuat dari Besi anti karat dihiasi dengan Emas dan Perak serta berhulu Tanduk.
Senjata ini merupakan senjata yang memiliki kesaktian tingkat tinggi.

5. TARE KAMPU & SAMPAI (Talam)
Dibuat pada tahun 1790 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi La Nggadi, alat ini terbuat dari bahan Emas Putih yang digunakan pada saat upacara kematian untuk membawa bunga ke makam/kuburan.




6. TEMPAT LILIN & GUNTING LILIN
Yang dibeli dari Itali dan terbuat dari Perak Asli. Yang digunakan pada saat Upacara kebesaran kesultanan(Khataman Al-Quran, Khitanan, Kapanca dan Perkawinan)





7. Cere Oi Nono (Cerek AIR MINUM)
Dibuat pada tahun 1790 oleh Pandai Mas dari Bima yang bernama Bumi La Nggadi
Koleksi ini dibuat dari bahan campuran Emas dan Perak.
Koleksi ini berfungsi sebagai tempat air minum Sultan



8. JOPU TUTA SAWA (TONGKAT KEBESARAN SULTAN)
Tongkat Kebesaran Sultan yang berkepala Ular. Dibuat pada tahun 1799 oleh pandai Mas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Tongkat ini terbuat dari Kayu dengan tatanan kepala ular dari Emas dan dihiasi dengan intan. Begitu juga dengan mata ular dihiasi dengan intan.

9. SALAPA (Tempat Sirih Pinang) Bokor dan CEREK.
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.Koleksi ini semuanya dibuat dari bahan Emas murni. SALAPA, berfungsi sebagai tempat menyimpan perlengkapan Sirih Pinang. BOKOR, berfungsi untuk membuang sisa dari makan sirih (air ludah). CERET, sebagai tempat menyimpan air suci.

Semua alat ini digunakan pada saat upacara kebesaran kesultanan.

10. BUJA SERE (Tombak Perwira)
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Mas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Koleksi ini terbuat dari kayu dan dilapisi dengan Emas murni, seperti pada sisik tombak. Alat ini digunakan oleh Perwira Tinggi pada saat upacara adat (sere). Tombak ini terdiri dari Tombak bercabang dua dan Tombak bercabang tiga (trisula)

11. Katopo Jena Jara Asi,Rantai Kendali,Karaci.
(Perlengkapan Berkuda SULTAN)

Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Mas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Perlengkapan Kuda ini terbuat dari Emas murni (Katopo jena jara asi), Rantai Kendali terbuat dari besi serta cambuk yang gagangnya berlapis emas.
Perlengkapan ini biasa digunakan oleh Sultan setiap mengendarai kuda.


12. SONDI REO
Senjata pejabat Kesultanan Bima, yang bertugas di Reo (FLORES BARAT) yang merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Bima.
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Mas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Senjata ini berhulu Emas dan Perak serta yang terbuat dari tulang ikan Duyung


12. MAHKOTA PEJABAT MANGGARAI, GOLOK DAN PEDANG / SONDI
Senjata pejabat Kesultanan Bima, yang bertugas di Manggarai (FLORES BARAT) yang merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Bima.
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.





13. NGAMO/WACARIMA (Tempat Cuci tangan) dan SAMPAI NGAMO (Alas Kendi)
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Mas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Alat ini terbuat daru Emas murni, yang biasa dipakai pada upacara – upacara kebesaran dan pesta.





14. SONDI
Dibuat pada tahun 1799 oleh Pandai Emas dari Bima yang bernama Bumi Ndede La Nggadi.
Senjata ini merupakan senjata Komandan Pasukan (membawahi pasukan).
Senjata ini berlapis Emas dan Perak dan Hulu nya terbuat dari Tulang Ikan Duyung.



...... Masih banyak lagi koleksi yang lainnya........

Thursday, March 10, 2011

Tradisi Upacara Adat "Hanta U'A PUA"

U’a Pua dalam bahasa melayu disebut ”Sirih Puan” adalah satu rumpun tangkai bunga telur berwarna warni yang dimasukkan ke dalam satu wadah segi empat. Jumlah bunga telur tersebut berjumlah 99 (Sembilan Puluh Sembilan) tangkai yang sesuai dengan Nama Asma’ul Husna. Kemudian di tengah-tengahnya ada sebuah Kitab Suci Al- Qur’an. U’a Pua ditempatkan di tengah-tengah sebuah Rumah Mahligai (Bima: Uma Lige) yang berbentuk segi empat berukuran 4×4 M2. Bentuk Uma Lige ini terbuka dari ke empat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat orang gadis, dan penari lenggo melayu yang terdiri dari empat orang perjaka, beserta para penghulu melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh mayarakat sepanjang jalan.

Uma Lige tersebut diusung oleh 44 orang pria yang berbadan kekar sebagai simbol dari keberadaan 44 DARI MBOJO yang terbagi menurut 44 jenis keahlian dan ketrampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur Pemerintahan kesultanan Bima. Mereka melakukan start dari kampung melayu menuju Istana Bima untuk diterima oleh Sultan Bima dengan Amanah yang harus dikerjakan bersama yaitu memegang teguh ajaran Agama Islam.
Seiring dengan perjalanan waktu, lahir beragam persepsi masyarakat Mbojo (Bima) mengenai arti / makna serta tujuan U'a Pua, yang pada masa kesultanan merupakan salah satu upacara “Rawi Na’e Ma Tolu Kali Samba’a” ( upacara adat besar yang dilaksanakan tiga kali setahun ) selain upacara “ Ndiha Aru Raja To’i (perayaan Hari Raya Idul Fitri ) dan Ndiha Aru Raja Na’e (perayaan Hari Raya Idul Adha ). Akibat dari munculnya persepsi yang beragam, maka tidaklah mengherankan munculnya respon yang berbeda pula dari masyarakat, terhadap pelestarian Upacara Hanta U'a Pua sebagai media Dakwah dan Syiar Islam.

Untuk meluruskan pemahaman masyarakat Mbojo mengenai Subtansi upacara Ua Pua seharusnya para ulama, tokoh adat, budayawan dan organisasi yang bergerak di bidang sosial budaya berperan aktif dalam mengsosialisasikan makna serta tujuan upacara Ua Pua yang sesungguhnya.

Secara singkat, arti / makna serta tujuan upacara Hanta U'a Pua. Menurut bapak Hasan Ibrahim seorang tokoh adat melayu yang semasa hidupnya memeganng jabatan penghulu Melayu dalam lembaga Sara Hukum Majelis Adat Dana Mbojo, kata U'a Pua berasal dari bahasa melayu “Sirih Puan”, Arti Etimologis (Denotasi) kata tersebut adalah wadah untuk menyimpan sirih. Arti terminologis (konotasi) kata U'a Pua adalah rangkaian upacara adat untuk memeriahkan Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, yang dilaksanakan selama sa juma’a ( se- Jum’at/sepekan ) pada wura molu (bulan Maulud / Rabiul Awal ). Puncak dari upacara U'a Pua ditandai dengan penyerahan U'a Pua yang berisi sebuah Kitab suci Al-Qur’an oleh penghulu Melayu (Ulama) kepada sultan yang berlangsung pada pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal bertempat di Istana Bima. Upacara tersebut merupakan simbol kesepakatan ulama dan Sultan bersama seluruh Rakyat untuk menjunjung tinggi ( mencintai kitab suci Al-Qur’an). Dengan kata lain Al Qur’an akan dijadikan sumber hukum serta pedoman dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, di samping “Sunnah Rasul” dan “Ijtihad para Ulama” (Ijma, Qyas dan Urfshaih)
Sultan bersama rakyat harus menghormati para Ulama yang Ikhlas membimbing mereka kejalan yang lurus.

Setelah masyarakat memahami secara benar dan utuh tentang arti kata U'a Pua, maka perlu ditindak lanjuti dengan upaya mensosialisasikan tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan upacara tersebut. Para Ulama melalui Datuk Raja Lelo dan kawan – kawan sebagai perintis pelaksaan upacara adat Hanta U'a Pua, telah meluruskan tujuan yang ingin dicapai sebagai berikut :
1. Memperingati dan memuliakan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.
2. Memperingati masuknya Agama Islam dan berdirinya kesultanan Bima.
3. Menghormati penghulu Melayu ( Datuk gurunya ) beserta seluruh kaum keluarga/ keturunannya yang berjasa menyebarluaskan Agama Islam di Bima ( Bo Melayu )

Kalau disimak secara cermat tujuan dari upacara U'a Pua dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya Upacara Hanta U'a Pua merupakan media Dakwah guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat serta menjadikan Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai pedoman hidup. Selain itu Upacara Hanta U'a Pua bisa melahirkan sikap meghargai sejarah, sehingga masyarakat mau berguru kepada sejarah dan menatap kehidupan hari ini demi kejayaan hari esok. Upacara Hanta U'a Pua juga merupakan media yang paling efektif bagi seni budaya Mbojo yang islami. Mampu memotifasi seniman dan budayawan untuk menciptakan karya seni yang bermutu yang layak dipergelarkan dalam Upacara Ua Pua. (Adm.)

Istana Kesultanan Bima (Asi Mbojo)

Kerajaan Mbojo (Bima) yang masuk dalam salah satu catatan perjalanan sejarah Indonesia hingga kini masih meninggalkan sebuah keraton yang pernah menjadi istana sultan-sultan Bima. Keraton yang ada di tengah-tengah kota Bima dan dibangun oleh Sultan Salahudin Kahir tahun 1925 dan 1927 itu masih menampakkan keasliannya. Walau sudah mengalami renovasi, namun renovasi yang dilakukan tetap berpegang pada arsitektur aslinya.Keraton yang di bangun pada masa Sultan Salahudin Kahir ini tetap menjadi kebanggaan warga Mbojo. Sebagaimana lazimnya keraton-keraton di Pulau Jawa, keraton Mbojo juga mempunyai desain mirip bahkan mungkin sama dengan keraton di pulau Jawa.
Inset foto : Gerbang Keraton Bima (kiri), Masjid Keraton Sultan Salahuddin Bima (kanan

Keraton terletak di tengah kota, di depannya terhampar alun-alun. Di sekeliling keraton ditumbuhi pohon beringin dan di sudut yang lainnya terlihat sebuah masjid sebagai tempat ibadah umat Muslim. “Dulu memang ada pohon beringin yang besar-besar tapi sekarang sudah roboh,” tutur Sofran - warga Bima.
Memasuki keraton dengan desain rumah panggung, pengunjung disuguhi berbagai macam peninggalan kerajaan seperti keris, pedang dan juga lambang-lambang kerajaan serta perhiasan. Pengunjung juga bisa memasuki ruang kerja sultan dan tempat tidur yang masih terlihat utuh selain meubeler tua dengan desain khasnya.
Yang unik dari keraton ini, menurut penjaganya ada satu ruangan sebagai tempat eksekusi atas orang-orang yang divonis bersalah. Jika hukuman mati sudah dilaksanakan, mayat orang bersangkutan tidak akan pernah ditemukan dalam ruangan tersebut. “Menurut cerita, ada mahkluk halus yang diperintah untuk membuang mayat-mayat itu,” jelasnya.
Selesai menyusuri sudut-sudut keraton, pengunjung masih disuguhi berbagai buah tangan asli Mbojo seperti ramuan atau kerajinan kayu songgak. Menurut brosur, kayu songgak memiliki khasiat menyembuhkan beberapa penyakit diantaranya rematik dan kencing manis. “Caranya, tinggal tuangkan air dalam gelas songgak. Tunggu beberapa saat baru airnya diminum,” jelas pemandu lainnya.
Soal rasa jangan ditanya. Bagi Anda yang tidak suka rasa pahit bila ingin minum air kayu songgak sebaiknya menyiapkan gula atau penawar rasa pahit lainnya. Gak percaya, boleh coba.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More